Aku mulai lelah dengan semua teka-teki ini. membelit tak ada habisnya. seolah aku sedang diuji dalam kuis kecerdasan. dan aku dibuat terlihat bodoh. selama ini apa bukti yang aku dapatkan? tak pernah bisa teka-teki ini kujawab barang satu saja. semua membingungkan. apa aku sedang dipermainkan? banyak yang tidak kuketahui. semua rahasia. siapa dia sebenarnya? bagaimana dia sebenarnya? dimana dia sebenarnya? dia ... siapa??
alasan demi alasan dilontarkannya. pertemuan dielakkannya. lalu dia anggap apa aku ini?
apa aku yang terlalu bodoh? apa yang sedang dia rencanakan? apa yang sedang dia sembunyikan? aku mulai ragu atas pengakuannya. aku mulai ragu atas semuanya. kasih sayangnya... mungkin palsu. entahlah. biar waktu yang mewabnya. kudiamkan sampai aku sudah tak sabar. semakin lama ini tak masuk akal. akan kuputuskan secepatnya dan ... semoga ini yang terbaik. maaf aku mulai lelah akan ketidakpastian ini ...
Selasa, 19 November 2013
ketidakpastian ini ...
Sabtu, 09 November 2013
Kamu yang bilang
Kamu yang bilang tidak lagi-lagi
kamu yang bilang akan berhenti
kamu yang bilang janji
kamu yang bilang lihat saja
kamu yang bilang
kamu!!!
bunuh saja aku sekarang, jangan bunuh pelan-pelan
bilang saja sekarang, jangan kau tunjukkan perlahan, sakit
buang saja aku, kau tak perlu menganggapku lagi
tak apa daripada hatiku sakit melihat kau berulang kali berjanji tidak lagi-lagi, berjanji akan berhenti, berkata janji, berkata lihat saja, tapi ... lagi-lagi pula kau ingkari, justru kau tak pernah berhenti, semakin banyak janji, dan lihat saja? apa?!
bagaimana lagi aku harus mengkodemu? bagaimana lagi harus kutunjukkan padamu? bagaimana lagi harus kukatakan padamu? masih saja kau tak peduli, tetap saja kau begitu.
perih
sekeras usahaku menahan ...
ya. mungkin kamu hanya sedang lupa akan janjimu
atau mungkin kamu memang tidak pernah bisa ...
aku tak pernah berharap akan jawaban yang kedua. aku benci
bunuh saja aku sekarang
dan aku akan pergi. Mati
Jumat, 04 Oktober 2013
Dua
kita lewati satu persatu masalah yang ada. menepis omong yang tak ada gunanya. selalu berusaha menuntaskan rindu yang tak ada habisnya. merengkuh walau hanya bisa terbayang. menggenggam walau hanya terngiang. saling menguatkan jika salah satu terjatuh.
Cinta sudah menujam dalam. meninggalkan bekas yang menyisakan banyak arti. kadang mengiris, kadang mengelus, kadang meringis, kadang membius. memang itu cinta, kita.
koar-koar terkadang orang yang peduli atau mungkin tak suka, membisikkan agar ini tak berlanjut, mengingatkan agar aku tak benjut. Terimakasih, tapi aku memang ingin benjut. tapi aku memang ingin lanjut. karena aku percaya pada apa yang sudah terajut. karena aku yang tahu bagaimana hatiku, bagaimana dia dan sikapnya padaku.
belum lama terjalin memang, tak bisa dikatakan bahwa aku hebat, atau dia hebat, atau bahkan kita hebat, belum. ini mengalir begitu saja. Ya, rasa ini, cinta ini, kita.
Cinta ...
untukku, cinta itu aku dan
kita, simple.
hubungan ini mahkota bunga, masalah ini tangkainya. aku menikmatinya, selama ini. Dia orang yang selalu ada. membawa indahnya sebuah hubungan, bukan hanya senang, tapi keseluruhan. menawarkan berbagai rasa. aku bukan hanya orang yang beruntung, tapi aku adalah orang yang paling beruntung.
2 tahun sudah terlewati. lukisan abstrak yang termahal. hanya kita, aku dan kamu pemiliknya. Tak ada yang sama, hanya milik kita.
Senin, 30 September 2013
Rasa ini telah Mengunciku
mengurai kembali kisah semasa dulu. terindah diantara kisah-kisah yang lain. terukir senyum jika ada kau. terlukis bahagia saat menujumu. aku bergumam namamu saat sendiri, memikirkanmu saat kau pergi. bersenandung lagu kita saat merindumu. berusaha mencipta percaya di sela beberapa kebohonganmu. dan kembali membangunnya saat kau ulangi satu persatu. aku seperti orang bodoh yang berusaha mencipta bahagiaku, karena kau. memungut kembali sedikit demi sedikit serpihan hatiku yang terpecah saat kenyataan tak kuinginkan terlihat olehku. seperti beberapa yang kau tujukan padaku. memang bukan maksudmu, dan aku tak menyalahkanmu atas beberapa kenyataan itu. karena semua tak seberapa dibanding dengan tawaku, senyumku saat bersamamu. aku berusaha kembali membangun bentengku, berusaka tuk kembali percaya padamu walau terkadang tak selang waktu kau rapuhkan kembali. terus menerus kulakukan itu. seperti sudah biasa, kebal, seakan aku tak peduli lagi dengan semuanya, dengan apapun yang kamu tunjukkan, bagaimanapun kamu, aku tak peduli lagi. yang ada semua rasa ini sudah mengunciku rapat-rapat. tak ada celah untuk aku keluar walaupun kadang aku mencarinya. aku lemah karenamu. mengalah padamu untuk menguncimu juga. berusaha menerima apapun asal kau tetap bersamaku. menutup semua yang bisa menggoyahkanku. rasa ini seakan menerbangkanku tapi juga tak jarang menghempaskanku tanpa rasa bersalah. menerbangkanku dan menghembuskanku hingga aku terbentur sangat keras. tapi apapun aku tak pernah peduli, sesakit apapun aku tak mau peduli. aku percaya padamu apapun, berusaha percaya padamu bagaimanapun kamu. karena aku ingin bisa hidup dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. aku ingin bisa memahamimu dan kau tetap tinggal seperti biasanya, denganku. entah dengan apa, rasa ini telah mengunciku untuk terus menyayangimu ...
Kamis, 26 September 2013
Tentang Mata Kuliah Wimaya
mulainya jam setengah 3, dosennya udah tua, kalo ngajar cuma baca laptop, selalu duduk, ngebosenin deh ah~ maap pak
Kamis, 08 Agustus 2013
Bisa?
Keindahan kisah ini masih bisa kurasakan, walau dengan keadaan yang berbeda. harapan yang dulu kugantungkan, kini perlahan mulai berjatuhan satu per satu ...
Aku tetap tersadar apa kenyatannya. aku tetap terbuka, walau entah bagaimana akhirnya. aku masih berharap, meski aku taktahu untuk apa lagi itu kulakukan.
cinta, semudah itukah datang dan pergi dariku? meninggalkan bekas sayat yang perih. barisan puisi yang dulu untukku, apakah mungkin bisa kudengar lagi? rencana-rencana yang pernah kita buat, akankah bisa kita rajut kembali? karangan cerita masa depan, bisakah kita kumpulkan kembali?
aku takapa-apa. tak menangis saat semua berakhir. takada air mata saat kata itu terucap darimu. hanya saja, batu yang besar bersarang dihatiku. sesak.
Dan kini aku ingin menangis. aku tak tahan. aku ingin menangis ...
apakah berarti lagi airmata ini untukmu? setidaknya untuk menarikmu kembali padaku? apakah masih pantas aku kembali menggantungkan harapanku lagi? denganmu? apa yang sebenarnya sedang Tuhan rencanakan?
bekas ini belum sedikitpun hilang. rasa ini belum sedikitpun pudar, namun telah kuusahakan. walau belum sedikitpun berhasil kulakukan. apakah jawabannya akan kembali tentang waktu? bisa apa si waktu itu? apa dia bisa menggembalikanmu padaku? membuat kita bersama lagi? apa jaminannya? kenapa semua harus waktu? lalu pertanyaanku, kapan waktu berpihak padaku?
aku tak peduli. aku pernah berpikir untuk tidak menyerah. memperjuangkan apa yang menurutku baik. tapi apa itu akan baik untuknya juga? aku tak yakin. bukankah selama ini aku egois? selalu memaksakan kehendakku padanya. memintanya mengerti aku tanpa sebaliknya. aku yang tak baik. aku tau.
aku sadar siapa aku dan siapa dia. apa ini saatnya? untuk aku merelakan dia pergi dariku dan mencari kebahagiannya. membiarkannya bebas. lalu aku harus apa setelah itu? aku tak punya hak untuk cemburu lagi.
lalu apakah aku bisa untuk mulai membiasakan diri tanpanya. melewati semua sendiri? membiarkan harapanku berjatuhan lagi? memulai dari awal?
bisa?
aku gila
Kamis, 06 Juni 2013
Skenario itu Mulai Berubah?
sudahkan berubah skenario itu? apakah memang Tuhan merancangnya seperti ini ataukah justru salah satu dari kita yang merubahnya tanpa sadar? kamu atau aku. awal yang indah perlahan memudar. bagai rintik hujan yang melunturkan warna-warni yang dahulu dengan berani seolah sedang memamerkan keindahan warnanya. bahagia.
Belum. ini belum luntur seutuhnya, bukankah masih bisa dipoles lagi? masih banyak warna yang bisa kita ciptakan. bukan kekusaman seperti ini, kaku.
apakah salah jika aku merasa khawatir? khawatir akan perasaanmu yang mulai luntur juga. seperti warna-warni itu. seberapapun kamu mengelak, jika kamu menjadi aku dan merasakan perubahan sikapmu terhadapku, kamu akan mengerti terhadap apa yang aku bicarakan. tentang kelunturan itu. terlebih, kamu memperlihatkan sedikit di depan umum. di depanku, sosial media, twitter.
kamu bisa saja berkata tidak, tapi hati tidak bisa dibohongi. bukannya aku tak percaya atau sebagainya, aku hanya sedang berpikir tentang semua yang kamu tunjukkan sekarang.
masalah pekerjaan? ya. mungkin. tapi embel-embel yang membuntuti? siapa yang tau selain yang punya cinta.
aku tak pernah merasakan keraguan seperti sekarang, walaupun aku terkadang kesal karena kamu selalu pulang larut malam, atau jika sedang melampiaskan kelelahanmu sepulang kerja padaku, tapi ini beda. bukan perasaan seperti ini yang aku rasakan jika emang aku mempermasalahkan pekerjaanmu. aku mencoba mengerti dan tetap tak berpikir aneh-aneh padamu, hanya saja kamu selalu memperlihatkan sesuatu yang selalu kembali membuatku berpikir begitu. lagi, dan lagi.
Dan sikapmu, kamu tampak semakin cuek. Kaku. seolah-olah tak ada rasa rindu padaku. kamu selalu bisa tanpa suaraku kini. kamu selalu bisa tanpa sapaanku ataupun sebaliknya selalu bisa tanpa menyapaku, memberiku kabar. aku hanya rindu, mungkin berlebihan, tapi coba kamu berubah sedikir memperhatikanku lagi, rindu ini akan tetap pada porsinya. maaf. aku yang tak pernah bisa membatasi semua. mungkin memang berlebihan apa yang aku rasakan padamu, lelaki yang mampu merebut hatiku sejak 2 tahun lalu, yang mampu membuatku lebih bersemangat, mampu membuat aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung memilikimu. apa tak bisa diperbaiki lagi? entah.