Pingin nulis. Tapi gak tau mau nulis apa -_-
gimana coba?
Masa nulis tentang pampam lagi? Blog gue ini isinya ya cuma dia semua loh. Lagi? Hmm
Kalo nulis tentang pampam mah gak bakal abis-abis deh pasti. Oke, gue nulis tentang pengalaman gue waktu flashmob aja kali ya.
Sip sip. Jadi gini ...
Fakultas psycology UGM tu ngadain semacam flashmob gitu, finalnya buat memperingati hari sumpah pemuda gitu dan pembacaan deklarasi pelajar kota jogja. Dan gue ikutan lah biar banyak temen. Awalnya sih cuma diajakin sahabat gue, yaudah ikutan aja. Waktu itu jam 3 an gue dateng, nyampe sana gak meyakinkan gitu abisnya sedikit bgt. Mqsuk akal gak sih? Masa flashmob dikit bgt gitu. Yaudah masuk aja kitanya. Dan ternyata itu baru perwakilan doang yang dateng. Yuhuuuu belum semua. Okedeh
next, kita ikut latihan joged gitu, koreografernya dari ISI sih katanya. Entahlah. Tapi asik sih hehe
Sibgkat cerita tiap hari sabtu ama minggu latihan, tapi karena sabtu kita ada les di sekolah jadi ya minggu doang. Beberapa kali ikut latian akhirnya tanggal 28 okt juga. Bertiga kita dateng ke nol km. Deket malioboro tepatnya. Jam 1 siang mulainya jam 3 sore coba. Rawr. Mana sempet ujan deres lagi. Tapi untung pas waktunya tampil tu ujan udah out. Jreng joged bareng laalalala di jalanan gitu. Lalalalala asik. Ketemu temen baru. Pengalaman baru. Itung itung belajar tambah gaul hahaha
Rabu, 31 Oktober 2012
Flashmob sumpah pemuda
Minggu, 14 Oktober 2012
Aku telah mati
Entah sejak kapan ini semua benar-benar dimulai. Kapan awalnya, aku tak benar-benar tau. Dan sekarang, aku baru merasa jika ia terlalu sering melupakan hal kecil
yang bisa berdampak cukup parah.
Khususnya untukku. Aku tak pernah bisa
mengerti apa alasanku bisa mencintainya
sampai seperti ini. Hingga aku merasa
sangat bersalah walaupun itu bukan
kesalahanku. Apa yang membuatku
seperti ini? Jawabannya : aku yakin CINTA
Seperti halnya ketika ada temanku yang
bertanya, apa yang membuatmu
mempertahankan hubunganmu? Tak usah
kujawab karena memang takperlu. Semua
alasanku karna cinta. Yah, sangat klise
memang, tapi kenyataannya memang
begitu. Sekarang apa yang dimau cinta
itu? Aku tak mengerti. Apa aku harus
mengatakan cinta itu jahat? Tapi aku
bahagia ketika cinta ini ada. Berarti cinta
itu baik? Tapi terlalu banyak airmataku yang jatuh untuk cinta itu sendiri. Jadi?
Jika aku bisa memilih, sayangnya aku tak
pernah bisa. Aku pernah membaca novel
yang berjudul Hati Memilih, sungguh aku
mengalaminya. Novel itu menceritakan
tentang cinta yang datang tak terduga,
tentang cinta mana yang harus kita pilih,
tentang pengorbanan dan ketulusan,
tentang bagaimana cinta itu sendiri. “kita
tak bisa memilih cinta, kitapun tak bisa
memilah cinta hanya tawa tanpa luka dan
airmata. Tak peduli siapa yang lebih
mencintai, ketika cinta itu mampu
membuat kita ikhlas menghadapi apapun,
itulah cinta yang harus kita pilih”. Dan aku
telah memilih, dari situ aku tau. Tak ada
cinta yang jahat, semua cinta adalah baik,
karena jika kau menganggap cinta yang
kau rasakan itu jahat, perhatikanlah, bisa
saja itu bukan cinta. Tapi cobalah melihat
tak hanya disaat kau merasa cinta itu
jahat, tapi ketika sebelumnya kau merasa
senang ketika cinta itu menghampirimu.
Memang, tak akan ada cinta tanpa
airmata. Seperti itulah yang aku rasakan.
Aku rasa cinta telah membutakanku. Aku
tak pernah peduli asal dia bersamaku. Aku
tak pernah peduli sesakit apapun aku,
asalkan dia tetap untukku, bahkan aku
jarang peduli akan perasaanku sendiri.
Aku selalu berusaha melakukan yang
terbaik,sekedar membuatnya bangga
padaku. Walaukadang tak dilihat olehnya,
walau kadang tetap aku yang salah.
Semalam, mungkin ini pertamakalinya aku
merasa dia tak pernah menghargaiku, saat
kami sedang dilanda masalah kecil. Ya,
kecil. Saat itu dia mengatakan padaku
bahwa dia membelikanku sebuah buku,
karena aku sedang kesal padanya aku
menjawabnya dengan nada ketus, aku
bertanya judul buku itu dan dengan nada
ketus pula dia menjawab, Love is Bullshit!
Walaupun beberapa menit kemudian dia
meminta maaf dengan menyebut judul
aslinya tentang marketing. Tapi jujur,
sakit. Aku tau dia juga kesal. Tapi
katakatanya
saat itu juga aku menangis. Aku merasa
semua yang aku lakukan tak pernah
berarti baginya, dan dalam sekejap
terhapus oleh kata-kata itu. Love is
Bullshit? Jadi serendah itu dia
menganggap cintaku buat dia? Cinta ini
omongkosong. Jadi menurutnya begitu?
Aku tau sama halnya aku, dia juga kesal.
Tapi apa perlu? Aku ketus karena dia
melakukan sesuatu yang membuatku
kesal. Tapi alih-alih minta maaf, dia malah
berkata begitu. Sama seperti sebelumnya,
aku mengerti dan menerima. Toh dia juga
sudah minta maaf, bahkan sebelum dia
minta maafpun aku telah memaafkannya
terlebih dahulu. Mungkin baginya aku
terlalu berlebihan, itu semua karena dia
tak merasakan apa yang aku rasakan.
Mungkin bagi pria hal kecil memang kecil,
tapi bagi wanita hal yang dianggap kecil
oleh pria bisa berdampak besar. Yah, aku
hanya bisa tersenyum, karena aku tak
pernah peduli. Aku telah mati.