Dalam Hidup Selalu Ada Ceritera ...

Minggu, 30 September 2012

Senyum ini topengku

Malam ini masih sama dengan
hari-hari sebelumnya. Kata-
kata manis itu masih belum
menggema lagi. Perasaan
tenang itu masih belum kurasa
kembali.
Akhir-akhir ini aku tau dia
sibuk dengan pekerjaannya.
Aku mengerti, aku ingin
mengerti, aku sulit mengerti,
aku tak bisa mengerti, aku
berusaha mengerti, aku
mengerti. Aku tersenyum,
atau mungkin berusaha untuk
tersenyum. Aku tak boleh
menjadi penghalang baginya,
justru akulah yang harus
mendukungnya. Aku paham.
Awalnya, aku marah. Aku tak
bisa menerima perbedaan
kondisi yang berubah tiba-tiba
seperti ini. Dulu, sekarang,
jika kamu yang merasakan,
sangatlah berbeda. Begitu
juga dengan apa yang aku
rasakan dan juga perasaanku.
Aku ingat dulu, tiap pagi dia
menelponku atau mengirim
sms padakt, mengucapkan
selamat pagi, jangan lupa
sarapan, hati-hati di jalan.
Sekarang dia tak pernag lagi
menelponku setiap pagi.
Mungkin sms, buat bilang "aku
berangkat".
Dulu setiap aku pulang
sekolah dia selalu
menemaniku, entah telpon
atau sms. Sekarang tak lagi,
sms pun sangat jarang. Dulu
setiap malam sebelum tidur
kami selalu mengobrol
tentang apa saja, sekarang tak
pernah, kalaupun dia telpon,
itu sudah pukul 11 malam ke
atas, dan langsung tidur. Dulu
dia selalu bilang sayang,
sekarang jarang. Dulu saat aku
ragu dan menanyakan
perasaannya, kata-katanya
selalu menenangkan.
Sekarang kemana semua itu?
Akankah kudapat kembali?
Aku lelah, tak akan marah,
sangat mencoba berusaha
mengerti. Perasaan rindu itu
aku simpan, perasaanku aku
nomorduakan. Aku tak peduli
sesulit dan sesakit apapun,
aku hanya ingin menjaga
senyumnya, aku hanya ingin
melihat tawanya, aku hanya
ingin menjadi orang yang bisa
mengerti dia bagaimanapun
keadaannya.
Aku tak peduli bagaimana
rasanya merindu tak
tersalurkan, aku tak peduli
akan perasaanku. Aku hanya
ingin mengerti. Selama dia
masih bersamaku, aku tak
peduli apapun.
Tangisku tak lagi penting,
dialah yang terpenting.
Berharap Tuhan masih
memberikanku kekuatan.
Selama masih ada kesempatan
untuk aku mendampinginya,
aku akan terus
mendampinginya. Walau aku
harus mengalahkan apapun
tentang aku. Aku tak peduli
lagi. Aku akan terus
tersenyum untuknya.

Kamis, 20 September 2012

Bye bye

Mungkin memang tak akan ada pertemuan. Mungkin sudah saatnya buat aku benar-benar berhenti berharap akan datangnya pertemuan. Aku akan benar-benar berhenti berharap. Aku tetap menginginkan pertemuan, tapi aku tak akan meminta pertemuan. Yah, tak akan ada pertemuan, tak akan pernah ada.

Aku tersenyum, tapi bohong

Semakin lama aku semakin susah buat ngerti. Bahkan aku sudah benar2 berusaha.
Awalnya aku tak pernah menangis, lalu kemudian aku berusaha tak menangis, tapi akhirnya aku menangis, hingga sekarang aku lelah menangis.
Apa yang bisa ku lakukan? Banyak pilihan. Tapi aku tak pernah berniat untuk memilih. Kau tau? Semua menyakitkan.
Aku takut meneruskan, tapi aku tak berniat berhenti sedikitpun. Atau sekedar memunculkan niat itu, tak pernah.
Aku berharap semua bisa berjalan sesuai apa yang aku mau. Tapi tak pernah semudah itu. Mau tak mau aku yang mengikuti. Termasuk di dalan hubungan yang sedang kujalani. Semua ku ikuti.
Aku hanya bisa berterimakasih pada Tuhan, karena dia telah mempertemukan aku dengannya. Aku sangat bahagia sampai sampai aku ingin menangis. Aku bersyukur.
Jadi, Apa yang bisa aku lakukan sekarang? "oh, tak ada. Ikuti saja"
Sial!
Tuhan. Boleh aku menangis?
Tuhan, aku rindu padanya. Pada dia yang kucinta. Mengertikah Kau Tuhan?
Tuhan, bolehkah aku berkeluhkesah padaMu?
Aku ingin menangis. AKU INGIN BERTEMU. Fiuh, aku berteriak. Aku lega ... Sedikit.
Kau tau Tuhan? Hampir 1 tahun aku bersamanya. Tapi sekalipun kami belum pernah bertemu. Padahal aku sangat ingin dan berharap. Tak kasiankah Kau padaku Tuhan? Setiap hari tak henti-hentinya aku meminta padaMu. Memohon untuk bertemu. Tak maukah Kau mengabulkan doaku? Atau tak maukah Kau menjadikan kado anniv pertama kami? Atau kado ulang tahunnya?
Oh, aku lupa, dia tak penah menginginkannya, hanya aku yang sangat menginginkan pertemuan. Aku ingin menangis.

:(

Bukan karena kesibukanmu, tapi karena diammu. Sungguh, aku ingin bertemu. Kenapa? Aku mohon. Kabulkanlah :(

Selasa, 11 September 2012

Aku Tak Akan Pulang

Aku tak kalah, aku tak akan kalah!
Hey, tembokku akan aku beri besi baja, dan aku akan melapisinya berkali-kali dengan batu beton agar kau tak bisa merobohkannya, bahkan menyentuhnya. Dan kau! Ingat! Aku tak akan pulang. Aku tak mau kembali pulang. Aku sudah di tengah jalan, sayang jika aku berbalik arah dan pulang. Aku tak akan terkalahkan dalam hal ini. Hatiku telah terisi, dan terkunci. Tak akan bisa terbuka. Tak akan kembali pulang, setidaknya untuk saat ini dan akan begitu seterusnya. Jadi, memang aku tak akan pernah pulang, tak mau, kecuali memang dia yang memintaku pulang. Selain itu aku tak akan pulang. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan sampai. Jadi tak mungkin aku pulang. Aku akan selesaikan, dan mendapatkan dia yang aku mau, dia yang mengisi hatiku sekarang dan membuatku menguncinya tapi dia tak mengijinkan aku membuang kuncinya. Entah.
Aku tak akan pulang. Aku akan menyelesaikannya, dan dia akan menjadi titipan dariNya yang seutuhnya dititipkan padaku. Aku akan menjaganya. Aku tak akan pulang, apapun. Walau dia kerap memberiku paku, ataupun besi panas, aku tetap tak akan pulang selama dia belum memintaku untuk pulang. Walau dia kerap kali hanya memberikanku tembok dari kertas yang berlubang atau transparan aku akan tetap bergeming. Karena aku telah buta dan tak butuh penghibur selain dia. Hey dengar! Aku telah buta karenanya. Karena kebaikan dan kedewasaannya, walau paku yang dulu pernah dia beri belum tercabut seutuhnya tapi aku sedang berusaha mencari tang dalam dirinya, untuk kugunakan mencabut paku ini, sedikit aku telah menemukan serpihan tang itu.
Dan terakhir, aku tak akan pulang. Karena aku telah buta oleh tawanya. Dia adalah tujuanku. Dan aku akan meraihnya untuk hidupku selanjutnya. Aku tak akan pulang, karena hatiku tak mudah berubah. dengar!

:-C

Aku baru bangun mungkin sekitar jam 4.15 a.m yang lalu. Entah, pas bangun aku kok malah nangis. Padahal aku gak mimpi yang aneh2 gitu. Dan sekarang aku ngerasa sedih banget. Yang ada di dalem pikiranku cuma pampam. Aku kangen.

Minggu, 09 September 2012

Akun burung rahasia

Udah lumayan lama aku tau kalau pam pam punya akun burung satu lagi. Pertama kali tau, aku bener-bener kaget. Yang aku pikirin waktu itu cuma "kok bisa ya aku gak dikasih tau?".

Sempet aku bener-bener kecewa dan berbagai pikiran negatifpun muncul. Aku gak habis pikir kenapa bisa. Aku sempet marah, tapi ya cuma aku pendem. Nangis udah pasti. Kaget, syok. Sebagai cewek itu wajar banget kalau tau cowoknya ternyata punya akun burung satu lagi yang gak dia tau. Pasti pikirannya langsung negatif. Begitulah aku. Aku nyesel, kenapajuga aku harus tau. Ya, buat halhal kayak gitu aku lebih memilih buat gak tau daripada tau tapi cuma bikin sakit. Kayak akun fb, dulu aku tau. Aku sempet buka dan ciaw! Malah nemuin yang bikin sakit bgt. Setelah itu aku gak pernah mikir buat buka fb pampam lagi. Aku takut.
Dan masalah akun burung tadi, akunnya itu yang aku tau gak pakek nama asli, usernamenya juga. Tapi yang satu lagi nama sama usernamenya nama asli. Akun yang gak aku tau itu followersnya baru 70anlah, atau malah kurang. Dan yang satunya udah 7000an lebih. Temen temennya juga beda. Yang 70 sama yang 7000 kayak bumi sama langit bedanya. Wait, tarik napas dulu ...
Nah, menurut aku sih nama palsu dipake biar kalo disearch gak ketemu. Pertanyaanku, kenapa aku dikasih yang akun nama palsu? Bukan yang satunya aja ya? Ya paling egak kan aku dikasih tau gitu. Huhu kalau gak boleh di follow, aku juga gak bakal follow kok. Aku sih nyadar diri aja. Kita emang beda, ciptaan Allah mah emang sama, cuma posisinya ituloh sampe harus dibedabedain.
Hm tapi aku mikir positif aja. Setiap orang kan punya privasi masing2, termasuk pampam. Orang yang udah jadi suami istri aja punya privasi, apalagi yang masih pacaran gini. Lagipula mungkin dia emang harus gitu, yah terus dia jaga perasaanku (?) atau mungkin dia sebenernya mau ngasih tau tapi lupalupa terus (yang ini tambah mustahil) haha. Apapun alasannya aku gak peduli, kecewa memang kecewa. Syok? Iya banget. Tapi daripada jadi penyakit hati, mending lupain aja. Anggep aku gak pernah tau tuh akun. Kalau gak gitu bisa mewek terus aku, cengengnya gak ketulungan. Kebanyakan nangis bikin dada kiri sakit. Sumpah. Kadang sampek mau nangis kalau udah sakit. Gak tahan.  Kebanyakan kecewa juga tambah bikin nyeri huft.
So? Aku positif thinking ajalah. Percaya aja. Toh masih banyak kebaikannya pampam dari pada buruknya. Yang penting, aku bakal selalu jujur apapun itu. Bagaimanapun, pampam itu yang terbaik di mataku. ya, pampamku pasti gak bakal ngecewain aku.
Ehmm, Dia itu ...

Jelek banget! Hahaha~

Jumat, 07 September 2012

Malam ini aku rindu

Disinilah aku. Di rumah suami mama, di rumah papa tanpa suara ayah, tanpa ketawanya yang renyah, tanpa omelannya yang menakutkan, tanpa suara dengkurannya setiap dia kelelahan.
Tak terasa, sudah 11 tahun aku hidup tanpa ayah. Dan sekarang aku rindu. Aku sangat rindu padanya. Aku tak serumah lagi dengn ayah, itu artinya aku tak bisa kapan saja bertemu dengannya. Dulu setiap ayah pulang kerja, aku masih bisa makan malam dengannya dan mengobrol tentang apa saja yang terjadi saat aku di sekolah. Masih bisa menarik kumisnya yang tebal hingga dia teriak dan mencubit pipiku atau pantatku. Tapi sekarang, tak lagi bisa.
Aku rindu ayah. Ayah yang lebih pendek dariku, ayah yang sering dikir pacarku. Entah apa yang orang-orang pikirkan kenapa bisa menganggap ayah pacarku. Mana mungkin pacarku setua ayah. Atau aku yang setua ayah? Yang jelas itu menggelikan dan aku tak mau dianggap seperti itu. Aku baru 17 tahun kok, sumpah.
Apapun itu aku tetap rindu. Sebenarnya kemarin aku sudah membuat janji dengannya, ayah bilang hari ini dia akan menemaniku kemanapun yang aku mau. Tapi tanpa kabar. Padahal sudah sejak idul fitri kemarin aku lost contact dengannya. Setiap aku cari ke rumahnya selalu saja beliau tak di rumah. Kalau sudah seperti itu aku tak tau harus berbuat apa selain menunggu.
Yang aku ingin tahu, apa ayah juga rindu aku? Aku ingin menarik kumisnya lagi tapi takut dicubit pntatnya. Aku kan sekarang sudah besar. Mana mau dicubit pantat lagi. Tapi kalau mas aldi yang nyubit, aku pikir pikir dulu deh haha
Setelah ini aku akan meneleponnya. Bilang kalau aku rindu pada ayah dan aku ingin mendengar kalau dia juga rindu padaku. Itu membahagiakan. Sungguh.